Krisis Energi
Tanpa energi tanpa kehidupan”. Kutipan ini adalah hukum alam yang dibuat oleh Tuhan yang bersifat azali. Sebagai manusia, kita hanya berjalan atas kehendak dan pengaturan-Nya, termasuk dalam pemenuhan energi. Keadaan dunia yang telah mengalami krisis energi akibat keserakahan dan konspirasi menjadi salah satu dampaknya atas pengaturan Allah SWT. Kemiskinan, kriminalitas, perang, dan sebagainya merajalela akibat dari sebaran dampak kesalahan manusia yang tidakmemahami takdir azali.
Dari rentetan dekade peralihan energi, sebagian banyak masyarakat dunia hanya berkoar mencari alternatif sumber baru untuk pemenuhan kebutuhan. Sadarkah kita bahwa alam dibuat Allah untuk manusia sebagai khalifah? Satu hal yang kita lupakan adalah alam hidup berdampingan dengan kita. Lingkaran hubungan manusia, alam, dan Tuhan perlu disadari oleh kita agar kita bertindak sesuai aturan Tuhan. Dengan alam, kita boleh mengeksploitasinya untuk kemaslahatan dunia dengan perlakuan yang benar, seperti tidak boros mengonsumsi alam, menjaga kondisi lingkungan, dan sebagainya. Dengan Tuhan, selalu ingat dengan-Nya dan tetap dijalur yang telah ditetapkan.
Sikap Manusia Saat IniSadarkah kita saat ini? Sebenarnya telah sadar apa saja perlakuan kita terhadap alam, namun niat dan penerapan kesadaran kita kurang karena dililit oleh kesibukan. Kita juga menyadari bahwa Allah menyediakan untuk manusia, namun satu keadaan yang kebanyakan kita kurang menyadari, yaitu Allah menyediakan alam secara terbatas.Secara nasional dan dunia, manusia menyadari itu sehingga ada strategi perebutan sumber alam, seperti minyak di Irak, batu bara, dan sebagainya.
Pemborosan konsumsi energi secara tidak sengaja terus kita lakukan, seperti konvoi, menghidupkan lampu disiang hari, membuang dan membakar sampah, dan sebagainya. Mari renungkan sikap kita selama ini (sebelum hotnews kenaikan dan kelangkaan bahan bakar), apakah kita adil dengan alam? Beberapa waktu ini, pemerintah berencana menggalakkan hemat energi sebagai langkah awal menyikapi krisis energi global. Rencana ini sangat baik jika kita menyikapinya, namun keadaan politik dan sosial di Indonesia yang ruwet, ribet, dan berbelit-belit membuat kita pesimistis atas pelaksanaan kebijakan tersebut. Hemat energi bukan sekadar kebijakan saja, tapi harus menjadi budaya masyarakat sehingga diperlukan langkah strategis melalui teknologi, wadah, komunitas, ataupun lainnya sehingga perluasan persuasi hemat energi dapat terlaksana.
Sikap Manusia yang Seharusnya
Energi adalah kebutuhan pokok dan bagian ketahanan nasional. Sebagai bagian masyarakat dunia, saya juga menyadari keserakahan yang telah kita dilakukan. Krisis energi yang kita alami saat ini tidak lepas dari keserakahan dan ketidaksensitivitas kita. Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah, mengapa masih menggantungkan kebutahan energi dengan negara lain? Jawabannya karena sumber daya alam kita banyak diekploitasi dan diekspor ke maca negara. Kita masih minim teknologi karena pemikiran menuruti dinamika belum sepenuhnya membudaya, baik dikalangan mahasiswa maupun komponen masyarakat lainnya. Sebagai mahasiswa, sikap menuruti dinamika adalah langkah awal kita untuk membangun sensitivitas terhadap alam, baik melalui ilmu pengetahuan, teknologi, maupun sosial. Mahasiswa adalah komponen masyarakat penting dalam menyikapi kebutuhan energi nasional maupun internasional sehingga kita tidak semena-mena terhadap alam. Masyarakat adalah following partisipant yang selalu mengikuti kondisi dan kebijakan. Mereka juga sebagai konsumen energi sehingga fokus utama (selain pengembangan teknologi, sosial, dan ilmu pengetahuan) dalam penerapan hemat energi. Pemerintah adalah pemimpin pasukan dalam menghadapi krisis dan sikap terhadap energi kesinambungan.
Hemat energi adalah langkah awal dan sensitivitas terhadap energi adalah langkah menunjang penggalangan hemat (pengembangan Ilmu Pengetahuan, teknologi, dan sosial). Lanjutkan dan segera terapkan secara maksimal strategi Konservasi dan Diversifikasi Energi untuk Indonesia dan dunia.






0 komentar:
Posting Komentar